Tipikal Pemimpin di Timnas Argentina, Messi atau Mascherano?

Tipikal Pemimpin di Timnas Argentina, Messi atau Mascherano?

Agen Sbobet

Javier Mascherano pasang badan untuk mewakili rekan-rekannya di timnas Argentina. Sebab, ia adalah kapten Albiceleste sebelum beralih ke Lionel Messi.

Mascherano tampil dalam jumpa pers di Moskow kemarin, untuk mengklarifikasi gosip buruk yang menerpa Argentina pasca main buruk di dua pertandingan pertamanya di Grup D Piala Dunia 2018. Sejumlah media menyebut pelatih Jorge Sampaoli sudah tidak dipercaya, dan formasi pemain untuk laga berikutnya akan diatur oleh Messi dan Mascherano.

Mascherano menjadi “juru bicara”, mendampingi presiden PSSI-nya Argentina, Claudio Tapia — dan ditemani pula oleh gelandang Lucas Biglia. Mereka membantah gosip tak sedap itu.

“Hubungan dengan pelatih sepenuhnya normal. Tentu saja, saat kami merasa ada yang tak nyaman atau kami melihat sesuatu, kami mengungkapkan padanya karena jika tidak maka kami adalah orang yang munafik. Jika Anda merasa tak nyaman dengan sesuatu di lapangan dan tidak mengungkapkannya kepada pelatih maka Anda akan menjalani pertandingan yang tidak nyaman bukan? Anda justru membahayakan tim,” demikian antara lain bahasa yang digunakan pemain berusia 34 tahun itu.

“Para pelatih terbaik di dunia juga bertanya pada pemain untuk mengetahui pendapat mereka, karena pemain lah yang pada akhirnya membuat keputusan. Pelatih memberi Anda alat-alatnya, tapi Anda (pemain) yang menentukan pilihan mana yang terbaik untuk digunakan di atas lapangan,” tambahnya.

Sebuah perumpamaan yang masuk akal.

Pertanyaan muncul, untuk isu sekrusial itu, kenapa bukan Messi yang tampil menghadapi pers?

Soal siapa-siapa yang didorong untuk menghadiri sebuah konferensi pers, itu murni urusan internal tim. Namun, Mascherano adalah pilihan yang tepat karena beberapa faktor.

Pertama, dia adalah wakil kapten. Jika ketua berhalangan, wakil-lah yang maju. Messi barangkali sedang “berhalangan”.

Kedua, “halangan” Messi barangkali terkait “tekanan” hebat yang sedang menerpanya. Maklum, dunia memang tak adil buat dia. Jika Argentina tampil buruk, tanggung jawab ada di pundak Messi.

Suka tidak suka, adil tidak adil, itulah risiko bagi seorang pemain yang sudah lima kali terpilih sebagai pemain terbaik dunia. Greatest of All Time (GOAT) — demikian majalah Paper dari New York memberi label pada sesi foto terakhir sang bintang, awal Juni kemarin.

Seorang Messi tertekan? Messi frustrasi? Wajar. Toh ini bukan hal baru buat Messi. Di Piala Dunia 2014 di Brasil, biarpun Argentina berhasil lolos ke babak final, tetap saja Messi yang “disalahkan” ketika gagal menghentikan Jerman.

Media massa pun membuatkan drama buat Messi. Foto ia menatap sendu trofi Piala Dunia diviralkan, dan menjadi foto olahraga terbaik 2014. Nelangsa sekali. Sekali lagi, risiko menjadi seorang Lionel Messi. Seberapa frustasi Messi dengan situasi Argentina di Rusia saat ini? Mascherano membantu menggambarkannya sedikit — tapi tidak sefrustasi yang dibayangkan orang.

“Dia manusia biasa dan dia bisa merasakan frustrasinya sendiri. Dia putus asa untuk bisa membalikkan keadaan. Dia ingin menunjukkan kepada dunia kalau dia memiliki citra yang berbeda dengan penampilannya pada dua pertandingan awal,” ujar eks bintang Liverpool dan Barcelona itu.

Frustasi yang positif, begitu pesan yang ditinggalkan Mascherano.

0 Comments

No Comments Yet!

You can be first to comment this post!

Leave a Reply